Sabtu, 10 Maret 2012

untitle

Dear Life..
Pagi  ini aku dihidupkan dengan sesuatu hal yang tak sempat kucerna bersama angin. Bahkan angan normalku pun tak bisa menembusnya. Di dalam penuhnya hasrat diri; lensa kamera, petualangan, kampung halaman, dan  tawa pelangi. Lalu terdesak oleh kabutnya neraca keuangan, nominal angka yang tak sedikit, rupiah macet, atau apapun sejenisnya. Lelah memilki obsesi, tapi lebih tak berarti lagi jika tak memiliki cita, atau apapun sebagai tujuan kita berlari.
Dan..
Sampai hari ini aku sudah melakukan semuanya dengan sebaik-baiknya rencana yang aku miliki. Tulisan tanpa judul ini ber-hashtag bahwa Bahagia itu sederhana.. Sangat sederhana.. Terimakasih untuk setiap paginya..
Entah kenapa hari ini terasa sangat luar biasa, dan tentunya sangat menenangkan, dan jawaban itu akan aku temukan April nanti.. :)

Thanks God.. I’ll do my Best, I promise..





Kamis, 02 Februari 2012

Tentang Diam dan Amarahku..


Mungkin banyak dari sekian penulis yang jatuh cinta pada karakter yang diciptakannya sendiri..  Tapi bukan berarti karena tak sepenuhnya mencari, mungkin hanya terlalu jauh teranalisa dunia..
 
Untuk Damar, pelari kecil di lintasan pelangi..

Tentang Diam dan Amarahku..
Tentang janji-janji yang sepertinya memang sengaja kita lupakan..


Jangan bertanya lagi kenapa aku hanya diam. Aku tak cukup pintar menyentuhkan jawaban itu pada cemasmu. Aku tak cukup kuat menggapaikannya pada pemahamanmu. Sementara dia masih saja bercengkerama angkuh di pemahamanku.

Jika yang kau cari hanya jawaban, aku lebih meragukan rasamu setelah menemukannya. Sungguh aku tak bersengaja membuatnya tersembunyi.  Aku bersumpah tidak pernah membuatnya menjadi seolah-olah sangat rumit sampai terpaksa bertemu dengan ketidakbisaanku mengatakannya. Jadi ijinkan aku memohon padamu, jangan pernah berpikir kenapa aku tak berkata saja padamu adalah karena aku berlindung di balik alasan itu. Alasan bahwa ‘bagaimanapun juga kau tidak akan paham’.  Sedangkan satu-satunya yang paling aku inginkan saat ini adalah kepahamanmu mengenai kita,  dan tentang diamku.

Aku  marah dan terulas dendam mendalam pada sebuah cerita yang sengaja dia utarakan di keramaian angin. Lalu bagaimana mungkin aku tak mendengar, juga tak merasa jika raut bahagia memilikimu sengaja dia gantungkan di kaki pelangi. Bagaimana aku bisa tidak tau, dan lebih lagi bagaimana bisa aku tidak tergores??

Sampai matahari lelah menahan kecantikan saganya-pun, kau tak jua mengerti  tentang pesan yang aku titipkan pada sebutir hujan. Membiarkannya kini malah dinikmati jiwa lain yang mungkin lebih mengerti. Lebih tak mengerti. Atau bahkan lebih tidak peduli.

Meskipun aku hanya diam, itu bukanlah kesenangan menikmati penyesalan dan rasa bersalahmu.  Lalu aku juga tidak pernah menuliskan bahagiamu sebagai deritaku, dan juga sebaliknya.
Aku tidak mau berlindung di balik kemahiranku menyembunyikan luka, seperti dulu. Kemahiran itu bahkan ada batasnya. Ketika aku berfikir masih sanggup berjalan lagi beratus-ratus mil dengan keyakinan itu, kau dengan mudahnya membuatku lupa bagaimana cara tersenyum di atas sakit.

Aku terlalu sendiri berada dalam lahan batinku yang kini. Kemandirian membuatku merasa lebih sepi dari sebelumnya. Menjauhimu membuatku lebih angkuh  dalam kekuatan yang dikenal  sebagai sebenar-benarnya aku. Itu membuatku berapi dan menegaskan bahwa aku sangat memahami diriku yang sekarang. Meski terkadang aku tak sanggup mengerti  sedang berjalan sebagai siapa. Ego ini membuatku puas tapi sakit pada akhirnya. Senyum  kemarahan padamu lebih menyakitkan daripada rasa sakit yang kau ciptakan untukku. Amarah telah membawaku menjadi lain.

Sulit bagiku menerima bahwa mungkin tidak akan ada lagi janji-janji yang sengaja kita lupakan. Tapi darinya-lah aku tersadar, bahwa memang kita terlalu lama bermain di atas kata, di atas rasa yang sama sekali tidak pernah kita pahami sebagai sesuatu yang bisa membunuh kita nantinya.

Tuhan, maaf dan ampun atas amarahku.  Atas diamku yang mungkin mengundang  ribuan pedih. Atas lariku yang mungkin mencipta banyak keputusan tak benar.  Aku tau mereka tak berhak hadir, begitu juga aku yang tak ber-kewajiban membuatnya datang.  

Ya Tuhan, aku lusuh di hadap-Mu dengan sejuta luka yang masih tampak, dengan airmata berurai bagai akar, dengan dua tangan dari Mu yang menggenggam luka.
Seharusnya aku tak sampai  ‘terpaksa’ dahulu hanya untuk membawanya pada-Mu.
Seharusnya dia adalah milik-Mu sejak dulu, ada pada-Mu dan selalu menjadi milik-Mu.
Seharusnya dia hanya berdetak untuk-Mu, bernafas karena-Mu, dan hidup hanya dengan Nama-Mu.
Maaf jika aku telah lalai menjatuhkannya di tempat yang membuatnya tersakiti.
Maaf karena aku terlalu percaya diri bisa membawanya tanpa debu.
Maaf aku membuatnya berlumuran dendam yang tak pantas bersemayam.
Salahku membuatnya bertumpuk ragu, sedang di dekatku adalah Engkau Yang Maha Pasti.
Maaf Tuhan..
Kutitipkan (jiwa)ku pada-Mu. Jagalah dia dalam peluk-Mu, karena guyuran (airmata) ku tak cukup mampu sembuhkan lukanya.


(dalam "Damar", 2012)
-sketsa novel-